Subjek Pajak Penghasilan (PPh)

By On Rabu, April 6th, 2016 Categories : Belajar Pajak, PPh, PPh Umum

subjek pajak pph
Sebelum menjelaskan mengenai subjek pajak penghasilan, saya ingin memberikan gambaran kepada anda sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan subjek pajak itu ? Menurut R. Mansyuri dalam bukunya yang berjudul “Pajak Penghasilan Lanjutan” , subjek pajak adalah orang yang dituju oleh Undang-undang untuk dikenakan pajak, orang tersebut merupakan pihak-pihak yang dituju oleh Undang-undang untuk dikenakan pajak, bisa orang pribadi dan badan (termasuk BUT). Karena kita bicara Undang-Undang Pajak Penghasilan maka penjelasan berikutnya yang dimaksud subjek pajak adalah subjek pajak penghasilan.

Subjek pajak dibagi menjadi 2 yaitu subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri. Adapun ciri-ciri atau dikategorikan sebagai subjek pajak dalam negeri yaitu :

  1. Bertempat tinggal di Indonesia yaitu mempunyai bertempat tinggal tinggal di Indonesia, berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam 12 bulan, atau berada di Indonesia dan mempunyai niat bertempat tinggal di Indonesia.
  2. Warisan yang belum terbagi, artinya warisan tersebut sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak. Nantinya, penerima warisan kita sebut sebagai ahli waris.
  3. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia.

Sedangkan ciri-ciri subjek pajak luar negeri adalah

  1. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, yang menjalankan usaha/ melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia
  2. Orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan
  3. Badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia

Setelah kita mengetahui subjek pajak dalam dan luar negeri tentu kalian bertanya-tanya kenapa harus 183 hari sih? Untuk filosofinya saya juga belum paham, akan tetapi menurut pandangan saya, barangkali selama 183 hari untuk hidup di Indonesia itu sudah banyak memanfaatkan fasilitas-fasilitas umum di Indonesia sehingga sudah selayaknya untuk dikategorikan sebagai subjek pajak dalam negeri.

Nah, bagaimana dengan subjek pajak Bentuk Usaha Tetap (BUT)? Sesuai Undang-Undang PPh, (BUT) adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia. Walaupun termasuk subjek pajak luar negeri, perlakuan perpajakannya terhadap BUT ini dipersamakan dengan subjek pajak badan.

Kemudian banyak juga yang bertanya-tanya kepada saya mengenai subjek pajak terkait dengan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar atau kuliah di luar negeri selama setahun lebih. Bagaimana status subjek pajaknya? Apakah termasuk subjek pajak dalam negeri atau malah subjek pajak dalam negeri? Di dalam Peraturan Dirjen Pajak nomor PER-43/PJ/2011 disebutkan bahwa Warga Negara Indonesia yang bertempat tinggal tetap di luar negeri lebih dari 183 hari dalam 12 bulan dianggap tidak bertempat tinggal di Indonesia apabila dibuktikan, yaitu :

  1. green card
  2. identity card
  3. student card
  4. pengesahan alamat di luar negeri pada paspor oleh Kantor Perwakilan RI di LN
  5. surat keterangan dari Kedutaan Besar RI atau Kantor Perwakilan RI di luar negeri, atau
  6. tertulis resmi di paspor oleh Kantor Imigrasi negara setempat.

Jadi, seseorang yang sedang belajar/ kuliah di luar negeri lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan dan dapat dibuktikan dengan student card maka dianggap tidak bertempat tinggal di Indonesia sehingga termasuk subjek pajak luar negeri.

Untuk memperjelas penjelasan saya diatas mengenai subjek pajak, berikut ini saya rangkum perbedaan perlakuan perpajakan antara subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri :

No Uraian WP Dalam Negeri WP Luar Negeri (Non BUT)
1 Penghasilan yang dapat dikenakan pajak Penghasilan yang diterima atau diperoleh dari Indonesia dan luar Indonesia Penghasilan yang bersumber dari Indonesia
2 Dasar Pengenaan Pajak Penghasilan neto Penghasilan bruto
3 Tarif Pajak Tarif umum Tarif sepadan (proporsional)
4 Kewajiban pelaporan pajak Wajib menyampaikan SPT Tahunan Tidak wajib menyampaikan SPT Tahunan
5 Kewajiban mendaftarkan diri Terdapat kewajiban mendaftarkan diri untuk diterbitkan NPWP Tidak wajib mendaftarkan diri

Subjek pajak dalam negeri tidak serta merta selalu tetap dengan statusnya sebagai subjek pajak dalam negeri. Adakalanya seseorang maupun badan hukum yang pada mulanya sebagai subjek pajak dalam negeri berubah menjadi subjek pajak luar negeri dan begitu sebaliknya. dengan kata lain, ada saatnya mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif baik dalam maupun luar negeri. Untuk lebih jelasnya, berikut ini kapan mulai dan berakhirnya subjek pajak dalam negeri :

  1. Orang Pribadi, mulai dianggap sebagai subjek pajak dalam negeri pada saat dilahirkan dan bertempat tinggal di Indonesia. Berakhir pada saat meninggal dunia, saat meninggalkan Indonesia selama-lamanya, atau berada di luar negeri lebih dari 183 hari dalam 12 bulan.
  2. Warisan yang belum terbagi, mulai dianggap sebagai subjek pajak dalam negeri pada saat pewaris meninggal dunia dan berakhir pada saat warisan selesai dibagikan.
  3. Badan, mulai dianggap sebagai subjek pajak dalam negeri saat didirikan bertempat kedudukan di Indonesia dan berakhir pada saat dibubarkan atau tidak lagi berdiri di Indonesia.

Nah, bagaimana dengan subjek pajak luar negeri? kapan mulai dan berakhirnya subjek pajak luar negeri? berikut penjelasannya :

  1. Menjalankan usaha/ melakukan kegiatan BUT, mulai dianggap sebagai subjek pajak luar negeri saat BUT berada di Indonesia dan berakhir pada saat ditiadakannya BUT.
  2. Tidak menjalankan usaha/ melakukan kegiatan melalui BUT, mulai dianggap sebagai subjek pajak luar negeri pada saat adanya hubungan ekonomis dengan Indonesia dan berakhir pada saat putusnya hubungan ekonomis dengan Indonesia.

Sekarang teman-teman sudah bisa mengerti dan memahami tentang subjek pajak beserta uraiannya. Teman-teman bisa menentukan apakah termasuk subjek pajak dalam negeri atau luar negeri. Hal ini sangat penting bagi teman-teman yang bekerja di sebuah perusahaan yang mewakili pemotongan pajak dimana didalamnya kadang terdapat karyawan expatriat. Oleh karena itu, harus bisa menentukan apakah termasuk subjek pajak dalam negeri atau luar negeri karena perlakuan perpajakannya berbeda. Mudah-mudahan artikel mengenai subjek pajak diatas bisa bermanfaat buat kita semua.

Subjek Pajak Penghasilan (PPh) | luqman | 4.5