Pengertian dan Jenis Tarif Pajak

By On Selasa, April 12th, 2016 Categories : Dasar Perpajakan

pengertian dan jenis tarif pajak
Untuk masing-masing pajak yang kita kenal saat ini memiliki tarif pajak yang berbeda-beda. Undang-undang perpajakan telah mengatur dan memiliki filosofi tersendiri sehingga diharapkan dengan adanya tarif pajak ini dapat tercipta suatu keadilan bagi Wajib Pajak maupun masyarakat dan tetap menyesuaikan dengan kondisi perekonomian di suatu negara. Misalnya PPN memiliki tarif tetap sebesar 10% dari nilai Dasar Pengenaan Pajak (DPP) dan sebagian besar tarif Pajak Penghasilan Pasal 23 sebesar 2% dari penghasilan bruto. Nah, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan tarif pajak dan jenisnya apa saja ? Yuk kita bahas bersama-sama.

Pengertian Tarif Pajak

Tarif Pajak adalah suatu penetapan atau persentase berdasarkan Undang-Undang yang dapat digunakan untuk menghitung dan/atau menentukan jumlah pajak yang harus dibayar, disetor dan/atau dipungut oleh Wajib Pajak. Pada umumnya tarif pajak di Indonesia ditentukan berdasarkan persentase (%), tapi ada juga tarif pajak yang hanya berupa nominal saja. Jadi untuk menghitung jumlah pajak, tinggal mengalikan tarif pajak dengan Dasar Pengenaan Pajak (DPP). Nah, DPP ini bermacam-macam tergantung keadaan, perbuatan dan/atau peristiwa hukum yang terjadi, bisa berupa peredaran bruto, penghasilan netto (bersih), penjualan, penggantian dan sebagainya.

Jenis-Jenis Tarif Pajak

Seperti yang saya jelaskan tadi bahwa ada beberapa jenis tarif pajak yang dapat digunakan oleh suatu Negara sebagai acuan dalam menghitung/menetapkan pajak yaitu

  1. Tarif Tetap
    Tarif Tetap adalah tarif pajak yang besar nominalnya tetap tanpa memperhatikan jumlah yang dijadikan Dasar Pengenaan Pajak. Misalnya Bea Meterai, nominalnya tetap 3000 atau 6000 dan tidak ada tarif berupa persentase untuk pajak bea materai.
  2. Tarif Proporsional (Sebanding)
    Tarif Proporsional adalah tarif pajak yang menggunakan persentase tetap tanpa memperhatikan Dasar Pengenaan Pajak. Jadi, jumlah pajak yang dibayar akan sebanding dengan DPPnya. Apabila DPPnya semakin besar maka pajak yang harus dibayar akan semakin besar pula, begitu juga sebaliknya. Misalnya tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang kita kenal sekarang ini sebesar 10%. Berapapun nilai Dasar Pengenaan Pajaknya, tarif pajak yang digunakan tetap 10% dari DPP.
  3. Tarif Progresif
    Tarif Progresif adalah tarif pajak yang persentasenya semakin besar apabila Dasar Pengenaan Pajaknya meningkat. Undang-Undang Pajak Penghasilan Negara Indonesia Pasal 17 ayat 1 menggunakan tarif ini, Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini
    Penghasilan ≤ Rp 50.000.000,00 tarif pajaknya 5%
    Penghasilan diatas Rp 50.000.000 s.d. Rp 250.000.000 tarif pajaknya 15%
    Penghasilan diatas Rp 250.000.000 s.d. Rp 500.000.000 tarif pajaknya 25%
    Penghasilan > Rp 500.000.000 tarif pajaknya 30%
  4. Tarif Degresif
    Tarif Degresif adalah tarif pajak yang persentasenya semakin kecil apabila Dasar Pengenaan Pajaknya menurun. Pada prakteknya, Undang-Undang Perpajakan di Negara Indonesia tidak pernah menggunakan tarif degresif. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini
    Penghasilan ≤ Rp 50.000.000,00 tarif pajaknya 30%
    Penghasilan diatas Rp 50.000.000 s.d. Rp 250.000.000 tarif pajaknya 25%
    Penghasilan diatas Rp 250.000.000 s.d. Rp 500.000.000 tarif pajaknya 15%
    Penghasilan > Rp 500.000.000 tarif pajaknya 5%
  5. Tarif Ad Valorem
    Tarif Advalorem adalah tarif pajak dengan persentase tertentu yang dikenakan/ditetapkan pada harga atau nilai suatu barang. Contohnya adalah bea masuk (bea impor), untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut
    “PT Planet Pajak” melakukan impor barang berupa sepatu sebanyak 1000 pasang, harga per pasang sebesar Rp 150.000. Jika Bea Masuk sebesar 20% maka besarnya Bea Masuk yang harus dibayar adalah
    Nilai Barang Impor = Rp 150.000 x 1000
    = Rp 150.000.000
    Bea Masuk = Persentase x Nilai barang impor
    = 20% x Rp 150.000.000
    = Rp 30.000.000
  6. Tarif Spesifik
    Tarif Spesifik adalah tarif pajak dengan suatu jumlah tertentu atau suatu jenis tertentu atau satuan jenis barang tertentu sesuai dengan spesifikasinya. Contohnya hampir sama dengan tarif Ad Valorem, akan tetapi perbedaannya hanya terletak pada persentase saja. Apabila Tarif Ad Valorem menggunakan persentase tertentu sedangkan tarif spesifik menggunakan tarif nominal tetentu. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut ini
    “PT Planet Pajak” melakukan impor barang berupa sandal sebanyak 1200 pasang, harga per pasang sebesar Rp 110.000. jika Bea Masuk sebesar Rp 20.000/pasang maka besarnya Bea Masuk yang harus dibayar adalah
    Bea Masuk = Ketetapan x Jumlah Barang Impor
    = Rp 20.000 x 1200
    = Rp 24.000.000

Bagi pandangan setiap orang, tentu akan berbeda dalam memaknai pengertian tarif pajak dan jenisnya. Negara Indonesia tentunya mempunyai berbagai pertimbangan dan perhitungan yang menguntungkan semua pihak dalam menentukan tarif pajak yang dituangkan dalam Undang-Undang Perpajakan. Oleh karena itu, kringpajak.com merangkumnya dari berbagai sumber mengenai pengertian dan jenis tarif pajak yang bisa dimanfaatkan oleh semua pihak. Semoga bermanfaat

Pengertian dan Jenis Tarif Pajak | luqman | 4.5