Objek Pajak Penghasilan (PPh)

By On Kamis, April 14th, 2016 Categories : Belajar Pajak, PPh, PPh Umum

objek pph
Apabila sebelumnya kita bicara mengenai subjek pajak penghasilan maka disini kita akan membahas yang berkaitan dengan objek pajak penghasilan. Negara Indonesia secara reformasi mengatur pajak yang dikenakan terhadap penghasilan maupun keuntungan yang diperoleh Wajib Pajak sejak tahun 1983. Sehingga dibentuklah Undang-Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Kita ketahui bahwa yang namanya penghasilan sangat kompleks. Hal ini bisa kita contohkan kita mendapatkan fasilitas yang nyaman saja sudah dianggap sebagai penghasilan. Nah, sebenarnya penghasilan yang seperti apa sih sehingga menyebabkan kita terutang pajak (objek pajak) ? Yuk kita simak berikut ini :

Ciri-ciri “Penghasilan” menurut undang-undang pph adalah

  1. Adanya tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
  2. Berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia
  3. Dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan
  4. Dengan nama dan dalam bentuk apa pun.

Apabila kita kroscek kembali perihal ciri-ciri penghasilan diatas sebenarnya pada intinya adalah adanya tambahan kemampuan ekonomis. Hal itu tentu sungguh sangat adil apabila seseorang atau badan yang memperoleh atau menerima tambahan kemampuan ekonomis agar bersama-sama memikul beban negara agar pergerakan roda pemerintahan negara Indonesia dapat berjalan dengan lancar.

Tidak semua tambahan kemampuan ekonomis termasuk objek pajak penghasilan. Adakalanya tambahan ekonomis tertentu merupakan bukan objek pajak penghasilan misalnya harta warisan yang diterima dari keturunan sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat. Pada ciri-ciri penghasilan di atas disebutkan nomor 4 yaitu “dengan nama dan bentuk apa pun”. Berikut ini beberapa contoh penghasilan yang merupakan objek PPh, yaitu:

  • Semua pembayaran atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan, seperti upah, gaji, premi asuransi jiwa, dan asuransi kesehatan yang dibayar oleh pemberi kerja, atau imbalan dalam bentuk lainnya adalah Objek Pajak.
  • Hadiah dari undian, pekerjaan, dan kegiatan seperti hadiah undian tabungan, hadiah dari pertandingan olahraga dan lain sebagainya.
  • Laba usaha, apapun bentuk usaha anda maka atas laba atau keuntungan yang diperoleh merupakan objek PPh
  • Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta, misalnya keuntungan dari penjualan tanah dan/ atau bangunan
  • Pengembalian pajak yang telah dibebankan sebagai biaya pada saat menghitung Penghasilan Kena Pajak merupakan objek pajak. Sebagai contoh, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau PBB yang sudah dibayar dan dibebankan sebagai biaya, yang karena sesuatu sebab dikembalikan, maka jumlah sebesar pengembalian tersebut merupakan penghasilan.
  • Bunga termasuk pula premium, diskonto dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang. Premium terjadi apabila misalnya surat obligasi dijual di atas nilai nominalnya sedangkan diskonto terjadi apabila surat obligasi dibeli di bawah nilai nominalnya. Premium tersebut merupakan penghasilan bagi yang menerbitkan obligasi dan diskonto merupakan penghasilan bagi yang membeli obligasi.
  • Dividen yang merupakan bagian laba yang diperoleh pemegang saham atau pemegang polis asuransi atau pembagian sisa hasil usaha koperasi yang diperoleh anggota koperasi.
  • Penghasilan dari royalti atas penggunaan hak cipta dan sejenisnya
  • Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. Misalnya penghasilan dari sewa mobil, sewa kantor, sewa rumah, dan sewa gudang.
  • Penerimaan berupa pembayaran berkala, misalnya “alimentasi” atau tunjangan seumur hidup yang dibayar secara berulang-ulang dalam waktu tertentu.
  • Pembebasan utang oleh pihak yang berpiutang dianggap sebagai penghasilan bagi pihak yang semula berutang, sedangkan bagi pihak yang berpiutang dapat dibebankan sebagai biaya. Namun, dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan bahwa pembebasan utang debitur kecil misalnya Kredit Usaha Keluarga Prasejahtera (Kukesra), Kredit Usaha Tani (KUT), Kredit Usaha Rakyat (KUR), kredit untuk perumahan sangat sederhana, serta kredit kecil lainnya sampai dengan jumlah tertentu dikecualikan sebagai objek pajak.
  • Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas. Misalnya iuran dari Asosiasi/Ikatan Dokter Indonesia yang dipungut dari angotanya (dokter).
  • Keuntungan yang diperoleh karena fluktuasi kurs mata uang asing diakui berdasarkan sistem pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat asas sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia.
  • Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 merupakan penghasilan.
  • Premi asuransi termasuk premi reasuransi.
  • Tambahan kekayaan neto pada hakekatnya merupakan akumulasi penghasilan baik yang telah dikenakan pajak dan yang bukan Objek Pajak serta yang belum dikenakan pajak
  • Kegiatan usaha berbasis syariah memiliki landasan filosofi yang berbeda dengan kegiatan usaha yang bersifat konvensional. Namun, penghasilan yang diterima atau diperoleh dari kegiatan usaha berbasis syariah tersebut tetap merupakan objek pajak.
  • Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang KUP.
  • Surplus Bank Indonesia.

Objek pajak penghasilan ini sangat erat kaitannya dengan tata cara perhitungan pajak nanti. Dari berbagai macam jenis objek pajak penghasilan di atas tentu perhitungan dan tarif nya tidak semua sama. Untuk lebih detailnya nanti akan saya jelaskan satu per satu karena objek pajak penghasilan ini sangat kompleks sekali. Secara umum, objek pajak penghasilan diatas saya rangkum dari Undang-Undang PPh agar teman-teman disini bisa memahaminya.

Objek Pajak Penghasilan (PPh) | luqman | 4.5